Gambaran Status Gizi anak - Latar Belakang

Diposting oleh News Info on Sabtu, 04 Juni 2011

Gambaran Status Gizi anak-Peningkatan derajat kesehatan masyarakat sangat diperlukan dalam mengisi pembangunan yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia. Salah satu upaya peningkatan derajat kesehatan adalah perbaikan gizi masyarakat. Gizi yang seimbang dapat meningkatkan ketahanan tubuh, dapat meningkatkan kecerdasan dan menjadikan pertumbuhan yang normal (Depkes RI, 2004). Namun sebaliknya gizi yang tidak seimbang menimbulkan masalah yang sangat sulit sekali ditanggulangi oleh Indonesia, masalah gizi yang tidak seimbang itu adalah Kurang Energi Protein (KEP), Kurang Vitamin A (KVA), Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) dan Anemia Gizi Besi. (Arsad,RA. 2006)

Masalah gizi kurang dan buruk hingga kini masih merundung Indonesia. Segenap upaya telah dilakukan pemerintah, namun belum menampakkan hasil yang signifikan. Bahkan, fenomena terakhir menunjukkan adanya peningkatan prevalensi masalah gizi yang lebih serius. Krisis ekonomi, merosotnya nilai rupiah dan bencana alam yang beruntun, menjadi pemicu meningkatnya masalah ini. (Bukhori, Alwan. 2007)

 Berdasarkan peringkat HDI (Human Development Index), Indonesia berada pada urutan 109 dari 174 negara, jauh di bawah negara ASEAN lainnya seperti Malaysia (peringkat 56), Filipina (77), Thailand (67), apalagi bila dibandingkan dengan negara Singapura (22) serta Brunei (25). Faktor-faktor yang menjadi penentu HDI yang dikembangkan oleh UNDP (United Nations Development Program) adalah pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Ketiga faktor tersebut sangat berkaitan dengan status gizi masyarakat. (Akhmadi. 2009)

Kekurangan Energi Protein (KEP) adalah masalah yang paling umum dijadikan indikator untuk melihat kondisi gizi masyarakat.  Media Kesehatan Dinas Kesehatan Sulsel ‘'Madising-Edisi 1 tahun 2003'' menguraikan perkembangan masalah gizi di Sulsel berdasarkan KEP sejak tahun 1995 menunjukkan 34,5%, turun menjadi 30,4% pada tahun 1996, kemudian turun lagi menjadi 25,08% tahun 1997.   Sedangkan tahun 1998 meningkat menjadi 52,30% dan turun kembali menjadi 42,78% pada tahun 1999.  pada periode yang sama, rata-rata kabupaten/kota di Sulsel berada di atas 30%, dan turun menjadi 11,3% pada tahun 2001. (Febriandy, Stevent. 2009)

Hasil Pemantauan Status Gizi yang dilaksanakan pada tahun 2001 menggambarkan 84,7 % anak yang berstatus gizi baik, 11,3 % anak yang berstatus gizi kurang, 1,0 % anak yang berstatus gizi buruk dan 3,1 % anak yang berstatus gizi lebih. Sedangkan untuk tahun 2004, menurut laporan yang diterima oleh Subdin Bina Kesehatan Keluarga dan KB Dinkes Prov. Sulsel tercatat bahwa jumlah KEP sebesar 13,48%. (Febriandy, Stevent. 2009)

Pada saat sekarang ini banyak masalah yang berkembang pada masyarakat Indonesia, terutama di daerah – daerah yang terjadi konflik maupun daerah yang terkena bencana alam bahkan di daerah yang aman pun sering kali gizi menjadi masalah tersendiri. Hal tersebut disebabkan karena kondisi ekonomi keluarga, kesehatan orang tua maupun kondisi ibu yang bekerja sehingga sering kali perhatian terhadap anaknya diserahkan kepada orang lain yang kurang memperhatikan gizi yang dikonsumsi anaknya. (Soegeng, Santoso. 2008)

Karena adanya beberapa masalah gizi di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian tentang status gizi pada anak umur 4 – 6 tahun di Taman Kanak – kanak (TK) Angkasa III Mandai yang berlokasi di kelurahan Hasanuddin Kecamatan Mandai.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar